Pengantar
Agama Islam
diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad shallallahu
`alaihi wa sallam dengan ditandai oleh turunnya al-Qur’an pertama kali
kepada Nabi Muhammad shallallahu `alaihi
wa sallam, yaitu surat al-`Alaq ayat 1-5. Al-Qur’an adalah sumber utama dan
pokok ajaran Islam. Al-Qur’an adalah ilmu pertama yang dipelajari muslim
generasi awal dari Nabi shallallahu
`alaihi wa sallam. Ilmu-ilmu yang berkenaan dengan al-Qur’an sebagai
lanjutan dari ilmu Qur’an kemudian berkembang menjadi banyak sekali, misalnya
yang berkenaan dengan cara membacanya, yang berkenaan dengan penjelasan
maksudnya dan yang berkenaan dengan sebab-sebab turunnya.
Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam sebagai
Rasul yang kepadanya diturunkan al-Qur’an adalah pemberi penjelasan dari al-Qur’an
itu, kemudian Allah melalui al-Qur’an telah menetapkan pula Nabi shallallahu `alaihi wa sallam adalah
juga sebagai pembuat hukum yang harus dipatuhi. Dengan demikian semua perkataan
Nabi shallallahu `alaihi wa sallam,
perbuatan beliau, dan persetujuan beliau tentang masalah-masalah agama adalah
juga merupakan sumber ajaran Islam. Berdasarkan inilah kemudian berkembang pula
ilmu Hadits dan cabang-cabangnya.
Islam adalah
agama Allah yang ajaran-ajarannya terdiri dari pokok-pokok `aqidah
(kepercayaan) dan pokok-pokok syari`at (peraturan-peraturan)[1].
Pembahasan tentang masalah `aqidah melahirkan ilmu Tauhid atau ilmu Kalam, ilmu
yang merupakan Theology Islam. Pembahasan tentang masalah Syari`at kemudian melahirkan
ilmu yang disebut dengan ilmu Fiqh. Dan karena al-Qur’an banyak berbicara
tentang masalah aturan-aturan etika kehidupan dan masalah-masalah penyucian
jiwa, maka dalam Islam kemudian berkembang pula ilmu akhlaq dan Tasawuf.
Al-Qur’an adalah
wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam melalui malaikat Jibril, oleh Nabi shallallahu `alaihi wa sallam al-Qur’an
itu disampaikan kepada umat manusia, disuruh hafal dan dicatat, kemudian al-Qur’an
itu disusun dalam sebuah kitab yang menjadi kitab standard sesudah melalui
penelitian dan periwayatan yang mutawatir, artinya disepakati oleh
sahabat-sahabat yang menerima al-Qur’an dari Nabi shallallahu `alaihi wa sallam. Sebagai bacaan yang harus dibaca
untuk mengetahui maknanya dan tuntutan serta tuntunan Allah terhadap manusia,
maka Allah dan Rasul—Nya telah menetapkan bahwa membaca al-Qur’an itu adalah
ibadah.
Sebagai pokok
dan sumber ajaran Islam, al-Qur’an itu telah dipelihara oleh kaum muslimin
semenjak dari masa Nabi shallallahu
`alaihi wa sallam. Dan dengan kecintaan kepada al-Qur’an kaum muslimin
menekuni dan mendalaminya dan kemudian berkembanglah ilmu-ilmu lain di seputar al-Qur’an
itu. Dalam bidang cara membacanya, telah tumbuh ilmu tajwid dan ilmu seni qira`ah.
Ilmu tajwid mengatur bagaimana hukum-hukum cara membaca al-Qur’an itu, masalah
panjang dan pendek melafalkan huruf, masalah tempat keluar huruf (makhraj),
masalah nun mati atau tanwin dalam hubungan dengan huruf yang sesudahnya, dan
sebagainya. ilmu Qira`ah adalah ilmu cara membaca dan melagukannya dengan
dialek-dialek yang diizinkan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam.
Seorang ulama
yang terkenal Imam Jalaluddin s-Suyuthi telah menyusun sebuah kitab yang
berjudul Al-Itqan fi `Ulumil Qur’an membahas secara mendalam ilmu-ilmu
yang menyangkut al-Qur’an, setidaknya ada 80 bab yang beliau susun yang
semuanya dapat dianggap sebagai ilmu-ilmu al-Qur’an. Di antaranya beliau
membahas surat-surat yang turun di Makkah dan di Madinah, Tentang bagaimana al-Qur’an
diturunkan, tentang Qira`ah baik yang Mutawatir sampai yang maudhu` (palsu),
tentang tafsir dan ta’wil.
Al-Qur’an
turun kepada Nabi Muhammad shallallahu
`alaihi wa sallam tidaklah secara
serempak merupakan sebuah kitab yang utuh, melainkan berangsur-angsur selama
lebih kurang 23 tahun. Dimulai pertama kali dengan turunnya ayat-ayat pertama
ketika nabi Muhammad shallallahu `alaihi
wa sallam bertahannuts di gua Hira’, di Makkah, yaitu surat al-`Alaq ayat 1-5.
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang
Menciptakan,
2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal
darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran
kalam[1589],
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya.
[1589] Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan
perantaraan tulis baca.
Ayat yang
terakhir turun adalah bahagian dari surat al
Ma`idah ayat 3 (Q.S., 5:3) yang turun ketika Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam mengerjakan Haji Wada’ (haji
perpisahan, haji terakhir Nabi shallallahu
`alaihi wa sallam, karena lebih kurang tiga bulan kemudian beliau wafat) pada tahun ke 10 H. di padang Arafah:
3 ….Pada
hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu
nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.
Dalam kurun
kira-kira 23 tahun itulah al-Qur’an diturunkan kepada Nabi shallallahu `alaihi wa sallam secara berangsur-angsur, kitab itu
terdiri dari 114 surat.
Al-Qur’an diturunkan terdiri dari dua periode, yaitu periode Makkah semenjak
kenabian sampai beliau hijrah, dan periode Madinah, semenjak beliau hijrah
sampai beliau wafat. Surat-surat al-Qur’an yang turun di Makkah disebut
surat-surat Makkiyah, dan surat-surat yang turun di Madinah disebut
surat-surat Madaniyyah.
Hikmah
surat-surat itu diturunkan secara berangsur-angsur antara lain :
·
Untuk memudahkan beliau menghafal dan memantapkan maknanya
dalam hati Rasulullah shallallahu `alaihi
wa sallam dan supaya dapat membacanya teratur dan benar. Seperti
difirmankan Allah:
32. Berkatalah orang-orang yang kafir:
"Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?";
demikianlah[1066] supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacanya
secara tartil (teratur dan benar).
[1066] Maksudnya: Al Quran itu tidak diturunkan
sekaligus, tetapi diturunkan secara berangsur-angsur agar dengan cara demikian
hati nabi Muhammad s.a.w menjadi kuat dan tetap.
·
Agar hukum-hukum dapat dibuat secara berangsur-angsur,
sehingga tidak memberatkan karena adanya perubahan yang drastis. Seperti
penetapan hukum minum khamar.
·
Agar dapat menjawab setiap pertanyaan yang muncul sehingga
jawabannya lebih mengesankan bagi yang bertanya:
1.
Ketika ada pertanyaan kepada Rasulullah saw tentang hal yang
bersangkutan dengan pengetahuan tentang ruh, lalu turunlsh jawaban melalui
firman Allah surah al-Isra’ (17:85):
85. Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh.
Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi
pengetahuan melainkan sedikit".
2.
Ketika ada pertanyaan tentang hal yang menyangkut kejadian
pada masa lalu, yaitu tentang Dzul Qarnain, lalu turunlah jawaban melalui
firman Allah dalam surah al-Kahfi dalam
ayat 83 dan beberapa ayat seterusnya:
83. Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad)
tentang Dzulkarnain. Katakanlah: "Aku akan bacakan kepadamu cerita
tantangnya".
84. Sesungguhnya kami telah memberi kekuasaan
kepadanya di (muka) bumi, dan kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk
mencapai) segala sesuatu,
3.
Ketika ada yang bertanya tentang masalah hukum berhubungan
badan dengan seorang isteri yang sedang haidh, lalu turunlah jawaban melalui
firman Allah seperti yang tertulis dalam surah al Baqarah ( 2: 222) :
222. Mereka bertanya kepadamu tentang haidh.
Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". oleh sebab itu
hendaklah kamu menjauhkan diri[137] dari wanita di waktu haidh; dan janganlah
kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci[138]. apabila mereka telah suci,
maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang
yang mensucikan diri.
[137] maksudnya agar jangan menyetubuhi wanita di
waktu haidh.
[138] ialah sesudah mandi. Adapula yang menafsirkan
sesudah berhenti darah keluar.
Ilmu Tafsir
Al-Qur’an itu diturunkan oleh Allah, secara
berangsur-angsur dalam jangka waktu lebih dari 22 tahun. Ada yang diturunkan ketika Nabi shallallahu `alaihi wa sallam masih
berada di Makkah sebelum beliau hijrah ke Madinah. Suarh-surah yang diturunkan
dalam periode ini disebut surah Makkiah. Ada
juga surah yang diturunkan ketika beliau sudah hijrah ke Madinah, surah-surah
ini disebut surah Madaniyyah.
Al-Qur’an itu diturunkan dalam Bahasa Arab. Dalam
beberapa hal al-Qur’an diturunkan secara rinci sehingga hamper tidak memerlukan
penjelasan lagi. Dalam beberapa hal al-Qur’an itu diturunkan secara tidak rinci
sehingga memerlukan penjelasan. Ketikam Nabi s// hidup, penjelasan itu dapat
diberikan oleh Rasulullah, baik atas pertanyaan sahabat-sahabat Nabi shallallahu `alaihi wa sallam atau atas
inisiatif beliau shallallahu `alaihi wa
sallam sendiri.
Ketika Rasulullah shallallahu
`alaihi wa sallam sudah tiada, maka kaum muslimin yang memerlukan
penjelasan al-Qur’an bertanya kepada sahabat-sahabat beliau yang punya
pengetahuan tentang hal itu. Disinilah mulai lahirnya ahli-ahli Tafsir
(mufassirin). Mufassir di kalangan sahabat diantaranya adalah khalifah
Rasulullah saw yang empat (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali) dan Ibnu Abbas.
Mereka menafsirkan al-Qur’an berdasarkan penjelasan Nabi yang mereka dengar ,
berdasarkan pengetahuan mereka tentang sebab turunnya suatu ayat (asbabun
nuzul), di samping dengan keahlian mereka dalam berbahasa dan sastra Arab, dan
kecerdasan mereka dalam menyimpulkan suatu kesimpulan.
Begitulah para Mufassirin selalu muncul dengan
karya-karya mereka sepanjang masa. Dari masa klasik muncul nama-nama mufassir
dengan Tafsir yang dinamakan dengan nama mereka, seperti tafsir Ibnu Katsir,
Tafsir al-Qurtubi, Tafsir al-Mawardi, dan lain-lain.
Begitupun di Indonesia muncul juga para mufassir,
dimulai dengan penerjemahan al-Qur’an keBahasa Indonesia dengan sedikit penjelasan
yang dilakukan oleh Prof. Mahmud Yunus pada tahun 1935. Kemudian muncul Tafsir
yang lebih mendalam seperti Tafsir al-Azhar oleh Buya Hamka.
Hal-hal utama
yang ada pada kitab suci al-Qur’an adalah:
1.
Kitab suci al-Qur’an akan selamanya terpelihara karena Allah
sendiri yang menjamin keterpeliharaannya dari perobahan-perobahan yang dibuat
manusia.
2.
Membaca al-Qur’an adalah ibadah, banyak sekali keutamaan-keutamaan
dalam kitab suci al-Qur’an yang mendatangkan pahala yang besar bagi orang
beriman yang membacanya.
3.
Hanya ada satu kitab suci al-Qur’an bagi semua ummat Islam di
dunia, apapun juga golongannya, apakah Syi`ah atau Sunni.
4.
Keotentikan al-Qur’an bahwa kitab yang ada sekarang persis
sama seperti yang diturunkan kepada Nabi lebih dari 14 abad yang lalu tidak
dapat diragukan lagi. Hal ini merupakan keuntungan yang luar biasa bagi kaum
muslimin di seluruh dunia.[2]

