Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Responsive Advertisement

ILMU-ILMU KEISLAMAN - AL-QUR’AN



Pengantar
Agama Islam diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam dengan ditandai oleh turunnya al-Qur’an pertama kali kepada Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam, yaitu surat al-`Alaq ayat 1-5. Al-Qur’an adalah sumber utama dan pokok ajaran Islam. Al-Qur’an adalah ilmu pertama yang dipelajari muslim generasi awal dari Nabi shallallahu `alaihi wa sallam. Ilmu-ilmu yang berkenaan dengan al-Qur’an sebagai lanjutan dari ilmu Qur’an kemudian berkembang menjadi banyak sekali, misalnya yang berkenaan dengan cara membacanya, yang berkenaan dengan penjelasan maksudnya dan yang berkenaan dengan sebab-sebab turunnya.
Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam sebagai Rasul yang kepadanya diturunkan al-Qur’an adalah pemberi penjelasan dari al-Qur’an itu, kemudian Allah melalui al-Qur’an telah menetapkan pula Nabi shallallahu `alaihi wa sallam adalah juga sebagai pembuat hukum yang harus dipatuhi. Dengan demikian semua perkataan Nabi shallallahu `alaihi wa sallam, perbuatan beliau, dan persetujuan beliau tentang masalah-masalah agama adalah juga merupakan sumber ajaran Islam. Berdasarkan inilah kemudian berkembang pula ilmu Hadits dan cabang-cabangnya.
Islam adalah agama Allah yang ajaran-ajarannya terdiri dari pokok-pokok `aqidah (kepercayaan) dan pokok-pokok syari`at (peraturan-peraturan)[1]. Pembahasan tentang masalah `aqidah melahirkan ilmu Tauhid atau ilmu Kalam, ilmu yang merupakan Theology Islam. Pembahasan tentang masalah Syari`at kemudian melahirkan ilmu yang disebut dengan ilmu Fiqh. Dan karena al-Qur’an banyak berbicara tentang masalah aturan-aturan etika kehidupan dan masalah-masalah penyucian jiwa, maka dalam Islam kemudian berkembang pula ilmu akhlaq dan Tasawuf.

Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam melalui malaikat Jibril, oleh Nabi shallallahu `alaihi wa sallam al-Qur’an itu disampaikan kepada umat manusia, disuruh hafal dan dicatat, kemudian al-Qur’an itu disusun dalam sebuah kitab yang menjadi kitab standard sesudah melalui penelitian dan periwayatan yang mutawatir, artinya disepakati oleh sahabat-sahabat yang menerima al-Qur’an dari Nabi shallallahu `alaihi wa sallam. Sebagai bacaan yang harus dibaca untuk mengetahui maknanya dan tuntutan serta tuntunan Allah terhadap manusia, maka Allah dan Rasul—Nya telah menetapkan bahwa membaca al-Qur’an itu adalah ibadah.
Sebagai pokok dan sumber ajaran Islam, al-Qur’an itu telah dipelihara oleh kaum muslimin semenjak dari masa Nabi shallallahu `alaihi wa sallam. Dan dengan kecintaan kepada al-Qur’an kaum muslimin menekuni dan mendalaminya dan kemudian berkembanglah ilmu-ilmu lain di seputar al-Qur’an itu. Dalam bidang cara membacanya, telah tumbuh ilmu tajwid dan ilmu seni qira`ah. Ilmu tajwid mengatur bagaimana hukum-hukum cara membaca al-Qur’an itu, masalah panjang dan pendek melafalkan huruf, masalah tempat keluar huruf (makhraj), masalah nun mati atau tanwin dalam hubungan dengan huruf yang sesudahnya, dan sebagainya. ilmu Qira`ah adalah ilmu cara membaca dan melagukannya dengan dialek-dialek yang diizinkan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam.
Seorang ulama yang terkenal Imam Jalaluddin s-Suyuthi telah menyusun sebuah kitab yang berjudul Al-Itqan fi `Ulumil Qur’an membahas secara mendalam ilmu-ilmu yang menyangkut al-Qur’an, setidaknya ada 80 bab yang beliau susun yang semuanya dapat dianggap sebagai ilmu-ilmu al-Qur’an. Di antaranya beliau membahas surat-surat yang turun di Makkah dan di Madinah, Tentang bagaimana al-Qur’an diturunkan, tentang Qira`ah baik yang Mutawatir sampai yang maudhu` (palsu), tentang tafsir dan ta’wil.
Al-Qur’an turun kepada Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam  tidaklah secara serempak merupakan sebuah kitab yang utuh, melainkan berangsur-angsur selama lebih kurang 23 tahun. Dimulai pertama kali dengan turunnya ayat-ayat pertama ketika nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam bertahannuts di gua Hira’, di Makkah, yaitu surat al-`Alaq ayat 1-5.
1.  Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2.  Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3.  Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4.  Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589],
5.  Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

[1589]  Maksudnya: Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis baca.

Ayat yang terakhir turun adalah bahagian dari surat al Ma`idah ayat 3 (Q.S., 5:3) yang turun ketika Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam mengerjakan Haji Wada’ (haji perpisahan, haji terakhir Nabi shallallahu `alaihi wa sallam, karena lebih kurang tiga bulan kemudian beliau wafat)  pada tahun ke 10 H. di padang Arafah:

3 ….Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.

Dalam kurun kira-kira 23 tahun itulah al-Qur’an diturunkan kepada Nabi shallallahu `alaihi wa sallam secara berangsur-angsur, kitab itu terdiri dari 114 surat. Al-Qur’an diturunkan terdiri dari dua periode, yaitu periode Makkah semenjak kenabian sampai beliau hijrah, dan periode Madinah, semenjak beliau hijrah sampai beliau wafat. Surat-surat al-Qur’an yang turun di Makkah disebut surat-surat Makkiyah, dan surat-surat yang turun di Madinah disebut surat-surat Madaniyyah.
Hikmah surat-surat itu diturunkan secara berangsur-angsur antara lain :
·         Untuk memudahkan beliau menghafal dan memantapkan maknanya dalam hati Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dan supaya dapat membacanya teratur dan benar. Seperti difirmankan Allah:

32.  Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah[1066] supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).

[1066]  Maksudnya: Al Quran itu tidak diturunkan sekaligus, tetapi diturunkan secara berangsur-angsur agar dengan cara demikian hati nabi Muhammad s.a.w menjadi kuat dan tetap.

·         Agar hukum-hukum dapat dibuat secara berangsur-angsur, sehingga tidak memberatkan karena adanya perubahan yang drastis. Seperti penetapan hukum minum khamar.
·         Agar dapat menjawab setiap pertanyaan yang muncul sehingga jawabannya lebih mengesankan bagi yang bertanya:
1.      Ketika ada pertanyaan kepada Rasulullah saw tentang hal yang bersangkutan dengan pengetahuan tentang ruh, lalu turunlsh jawaban melalui firman Allah surah al-Isra’ (17:85):
š
85.  Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".
2.      Ketika ada pertanyaan tentang hal yang menyangkut kejadian pada masa lalu, yaitu tentang Dzul Qarnain, lalu turunlah jawaban melalui firman Allah dalam surah al-Kahfi  dalam ayat 83 dan beberapa ayat seterusnya:
š
83.  Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain. Katakanlah: "Aku akan bacakan kepadamu cerita tantangnya".
84.  Sesungguhnya kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu,
3.      Ketika ada yang bertanya tentang masalah hukum berhubungan badan dengan seorang isteri yang sedang haidh, lalu turunlah jawaban melalui firman Allah seperti yang tertulis dalam surah al Baqarah ( 2: 222) :
š
222.  Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri[137] dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci[138]. apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.
[137]  maksudnya agar jangan menyetubuhi wanita di waktu haidh.
[138]  ialah sesudah mandi. Adapula yang menafsirkan sesudah berhenti darah keluar.

Ilmu Tafsir
Al-Qur’an itu diturunkan oleh Allah, secara berangsur-angsur dalam jangka waktu lebih dari 22 tahun. Ada yang diturunkan ketika Nabi shallallahu `alaihi wa sallam masih berada di Makkah sebelum beliau hijrah ke Madinah. Suarh-surah yang diturunkan dalam periode ini disebut surah Makkiah. Ada juga surah yang diturunkan ketika beliau sudah hijrah ke Madinah, surah-surah ini disebut surah Madaniyyah.
Al-Qur’an itu diturunkan dalam Bahasa Arab. Dalam beberapa hal al-Qur’an diturunkan secara rinci sehingga hamper tidak memerlukan penjelasan lagi. Dalam beberapa hal al-Qur’an itu diturunkan secara tidak rinci sehingga memerlukan penjelasan. Ketikam Nabi s// hidup, penjelasan itu dapat diberikan oleh Rasulullah, baik atas pertanyaan sahabat-sahabat Nabi shallallahu `alaihi wa sallam atau atas inisiatif beliau shallallahu `alaihi wa sallam sendiri.
Ketika Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam sudah tiada, maka kaum muslimin yang memerlukan penjelasan al-Qur’an bertanya kepada sahabat-sahabat beliau yang punya pengetahuan tentang hal itu. Disinilah mulai lahirnya ahli-ahli Tafsir (mufassirin). Mufassir di kalangan sahabat diantaranya adalah khalifah Rasulullah saw yang empat (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali) dan Ibnu Abbas. Mereka menafsirkan al-Qur’an berdasarkan penjelasan Nabi yang mereka dengar , berdasarkan pengetahuan mereka tentang sebab turunnya suatu ayat (asbabun nuzul), di samping dengan keahlian mereka dalam berbahasa dan sastra Arab, dan kecerdasan mereka dalam menyimpulkan suatu kesimpulan.
Begitulah para Mufassirin selalu muncul dengan karya-karya mereka sepanjang masa. Dari masa klasik muncul nama-nama mufassir dengan Tafsir yang dinamakan dengan nama mereka, seperti tafsir Ibnu Katsir, Tafsir al-Qurtubi, Tafsir al-Mawardi, dan lain-lain.
Begitupun di Indonesia muncul juga para mufassir, dimulai dengan penerjemahan al-Qur’an keBahasa Indonesia dengan sedikit penjelasan yang dilakukan oleh Prof. Mahmud Yunus pada tahun 1935. Kemudian muncul Tafsir yang lebih mendalam seperti Tafsir al-Azhar oleh Buya Hamka.

Hal-hal utama yang ada pada kitab suci al-Qur’an adalah:
1.             Kitab suci al-Qur’an akan selamanya terpelihara karena Allah sendiri yang menjamin keterpeliharaannya dari perobahan-perobahan yang dibuat manusia.
2.             Membaca al-Qur’an adalah ibadah, banyak sekali keutamaan-keutamaan dalam kitab suci al-Qur’an yang mendatangkan pahala yang besar bagi orang beriman yang membacanya.
3.             Hanya ada satu kitab suci al-Qur’an bagi semua ummat Islam di dunia, apapun juga golongannya, apakah Syi`ah atau Sunni.
4.             Keotentikan al-Qur’an bahwa kitab yang ada sekarang persis sama seperti yang diturunkan kepada Nabi lebih dari 14 abad yang lalu tidak dapat diragukan lagi. Hal ini merupakan keuntungan yang luar biasa bagi kaum muslimin di seluruh dunia.[2]